Bekerja dengan Media

Jurnalistik
Deskripsi

Tahun 2014 jagat penerbangan Indonesia dihebohkan oleh hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura. Banyak pembelajaran yang dapat kita ambil dari tragedi itu. Salah satunya sikap CEO Air Asia Tony Fernandes.

Sesaat setelah pesawat airbus yang mengangkut 155 penumpang dan tujuh kru itu dinyatakan hilang, Tony Fernandes segera turun tangan. Ia langsung terbang ke Surabaya. Setiap saat Ia memberikan informasi perkembangan pencarian melalui media dan media sosial. Melalui surat pribadinya, Ia meminta maaf kepada keluarga korban penumpang maskapai asal negeri jiran itu.

Cara Tony menangani tragedi itu menuai banyak pujian. Setiap ia muncul di televisi atau media, Ia selalu mengenakan t-shirt Air Asia, jauh dari kesan necis seorang bos besar. Kemudian kesan yang timbul di masyarakat pun positif; Tony seorang CEO yang sederhana dan bertanggung jawab pada musibah itu. Di saat yang sama Tony berhasil membangun citra baru perusahaannya.

Itulah kekuatan media. Malcolm X, seorang aktivis hak asasi manusia asal Amerika pernah mengatakan media adalah entitas paling kuat di bumi. Karena mereka mengendalikan pikiran massa. Pemikiran tokoh muslim Afrika-Amerika itu sangat relevan hingga hari ini. Media menulis dan merekam apa yang kita perbuat, kemudian menyampaikan yang kita katakan kepada masyarakat. Maka, sebagai pimpinan yang memiliki otoritas harus mampu mengoptimalkan kesempatan itu dengan baik. Seperti Tony saat menangani tragedi Air Asia saat itu.

Untuk dapat bekerja dengan media, maka seorang pimpinan harus memahami cara kerja mereka. Dengan berpikir layaknya wartawan, maka kita sebagai pimpinan akan lebih mudah memenuhi kebutuhan mereka. Wartawan membutuhkan kutipan pesan kunci yang kuat. Sayangnya tidak sedikit pimpinan yang kurang pandai memilah pesan inti itu, akhirnya isi pesan pun menjadi normatif dan kurang menarik.

Selain lihai memberi pernyataan kunci, seorang pimpinan juga harus mampu menjaga penampilan di hadapan wartawan. Wartawan televisi paling rewel dibanding wartawan tulis atau foto. Wartawan televisi sangat peduli pada penampilan narasumbernya seperti wajah yang bebas minyak, memilih latar belakang yang bagus, pencahayaan, hingga motif dan warna baju pun diperhatikan. Karena wartawan televisi membutuhkan kualitas gambar dan suara yang prima. Jika kualitasnya jelek, maka akan langsung dibuang oleh editornya. Berbeda dengan karya foto yang bisa diedit dengan aplikasi pengolah foto.

Rekaman audio visual sulit untuk dimanipulasi. Untuk itu, pimpinan atau narasumber kunci mesti percaya diri di depan kamera. Ekspresi wajah, gestur tubuh dan intonasi suara menjadi bagian yang sangat penting. Kegagalan menjaga penampilan di depan publik dapat menjadi bumerang.

Terbuka untuk praktisi humas

Apa yang akan Anda pelajari?
Kompetensi Dasar

Peserta pelatihan mampu mengoptimalkan setiap ruang dan kesempatan yang diberikan oleh media untuk meredam krisis


Kompetensi Standar

Menunjukkan pemahaman cara kerja wartawan;
Menunjukkan kemampuan menjalin hubungan dengan wartawan
Menunjukkan kemampuan memilah dan menyampaikan pesan yang layak berita;
Menunjukkan kemampuan berbicara di depan publik
Menunjukkan kemampuan melayani wawancara konferensi pers dan door stop.


Investasi

Rp 4.500.000Rp 5.000.000

Dapatkan diskon 10% jika membayar 2 minggu sebelum kelas dimulai | Diskon khusus bagi perusahaan yang mendaftarkan minimal 3 orang stafnya | Setiap peserta wajib melampirkan foto KTP, dan NPWP

Desember

03 Desember 04 Desember 05 Desember 2019

09:00 - 17:00 WIB

Sudah termasuk:
T-Shirt
Buku Jurnalistik Dasar: Resep dari Dapur TEMPO
Notes
Pulpen
Sertifikat
Konsumsi selama pelatihan
Kupon diskon akses #KelasTanpaBatas senilai Rp 150 ribu

Disclaimer:

Panitia berhak menunda/membatalkan kelas jika peserta tidak sampai 10 orang